Pelatihan Virtual Academic Writing di Era Digital 2023

Prodi PBA S3 menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Virtual Academic Writing di Era Digital “Terampil Menulis Jurnal Nasional dan Internasional Bereputasi” secara virtual melalui zoom meeting pada Kamis, 5 Oktober 2023. Kaprodi PBA S3 Dr. R. Umi Baroroh, M.Ag., menyampaikan dalam kegiatan tersebut bahwa kegiatan ini dilaksanakan atas beberapa latar belakang: Pertama, Melihat kebutuhan mahasiswa PBA S3 akan mutu pendidikan Indonesia dimana mahasiswa dituntut untuk memiliki keterampilan dan kemampuan untuk mempublikasikan hasil dari risetnya; Kedua, Kebutuhan akan aktualisasi diri dari mahasiswa dosen menghasilkan karya tidak hanya disimpan, tetapi dapat memberikan manfaat untuk dunia; ketiga, Jargon UIN Sunan Kalijaga untuk Bangsa UIN Sunan Kalijaga Mendunia, dapat ditarik kemampuan untuk publikasi di jurnal nasional maupun internasional.

Pelatihan Academic Writing menjadi acara inti dengan narasumber Ardian Wahyu Setiawan, S.S., M.Ed., Ed.D., Dosen Politeknik Malang yang kaya pengetahuan dan pengalaman di bidang kepenulisan. Kegiatan yang dipandu oleh Wahyu Hanafi Putra sebagai moderator yangs ekaligus mahasiswa Prodi PBA S3 tersebut berjalan dengan sangat khidmat. Berbagai sisi tentang academic writing yang dikupas oleh narasumber sangat segar dan memberikan nutrisi baru baru para peserta yang notabene mahasiswa PBA S1, S2, dan S3 dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Adapun beberapa hal yang disampaikan oleh narasumber antara lain:

1. AI dan aplikasi saat ini bisa digunakan untuk sparring system menulis

2. Sebab penolakan sebuah artikel: bahasa yang kurang baik, tidak ada informasi baru yang ditawarkan, konten ilmiah yang kurang baik.

3. Bahasa yang kurang baik dapat diatasi dengan framework.

4. Ditolak sebuah tulisan bukan sebuah masalah, tetapi ada hal yang menyenangkan yaitu feedback yang membuat tulisan kita menjadi lebih baik.

5. Menulis artikel sama seperti halnya kita nongkrong di café, duduk di satu meja duduk bersama teman-teman yang 1 frekuensi.

6. Level diskusi menjadi tolak ukur kompleksitas dari analisis seorang penulis.

7. Daftar pustaka tidak diambil secara random, harus mengetahui siapa dia, idenya apa, dan mengapa terhubung dengan artikel yang ditulis.

8. Analisis harus dilakukan mandiri. Tetapi terkait bahasa yang digunakan bisa dikirimkan ke editor atau provider agar sesuai dengan bahasa jurnal internasional.

9. Daftar pustaka dalam berbicara banyak hal yang meiliputi kebaruan, signifikansi temuan, dan lain sebagainya.

10. Argumen yang disajikan dalam artikel, karena sebuah artikel pada dasarnya tulisan ilmiah. Sehingga kita harus bisa menyajikan elemen argumen dalam artikel tersebut.

11. Membaca adalah landasan yang penting dari proses menulis.

12. Saat ini semua informasi dapat diakses dengan mudah

13. Problem menulis artikel: tidak memiliki ide, tidak memiliki topik penelitian, sudah membaca banyak artikel ilmiah tetapi sulit untuk memahami.

14. Semua sumber informasi bisa diakses secara mudah, sehingga yang menjadi masalah bagaimana mengelola data yang begitu banyak supaya bisa mendapat feedback informasi itu kembali untuk kebutuhan menulis.

15. Writing block bisa dipahami sebagai membaca yang belum cukup. Menulis ilmiah merupakan proses yang reflektif, bukan mengarang. Dimana penulis merefleksikan konsep2 yang didapatkan dari membaca dan emngembangkan argument berdasarkan pemahaman kita.

16. Masalah menulis bermula dari membaca yang tidak cukup dan membaca yang tidak efektif karena manajemen membaca yang tidak baik.

17. Penulis yang baik adalah pembaca baik

18. Rhetorical reading berfokus pada bahasa yang digunakan, instrument linguistic yang digunakan

19. Membaca aktivitas yang sangat bermanfaat, bukan hanya memberikan die, tetapi juga memberikan diksi, mampu menggunakan kalimat dan struktur yang lebih kompleks.

20. Membaca artikel tidak boleh disamakan dengan membaca novel atau membaca koran, tetapi membaca focus, mencerna makna yang dibaca.

21. Membaca tanpa merefleksikan apa yang dibaca seperti makan tanpa mencerna.

22. AI tidak akan menggantikan mahasiswa sebagai penulis.

23. Kelemahan AI: tidak bisa bercerita tentang sesuatu yang kontekstual, tidak bisa bercerita tentangs esuatu yang sangat personal, tidak bisa bercerita tentang sesuatu yang sangat baru,

24. Kita tetap membutuhkan manusia untuk memberikan rasa di dalam tulisan tersebut.

25. AI hanya algoritme, kecerdasan yang mengolah data. AI tool yang membantu kita, dia kan memberikan kita wawasan, saram dan membantu. AI dapat digunakan untuk mengembangkan pemahaman kita.

Tanggapan dari peserta sangat positif dan interaktif, teri=utama saat narasumber mendemonstrasikan website maupun aplikasi yang sangat membantu dalam kepenulisan. Kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama dengan berbagai kampus di Indonesia yang memiliki prodi atau jurusan PBA baik itu jenjang sarjana, magister, maupun doktor.