Mengkaji Nahwu Ta'llimi dengan Dosen Tamu asal Negeri Magribig
Senin (1/4/2024) Prodi PBA S3 FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Kuliah Dosen Tamu Seri Kedua Ittijāhāt fī al Lugawiyyāt al Taţbīqiyyah Semester Genap TA/ 2023/2024 yang dikemas dalam bentuk webinar series. Dr. Hisyam Zaini, MA., sebagai pengampu bidang studi bertindak sebagai keynote speech. Adapun yang bertindak sebagai MC adalah Nur Ainun Ritonga, M.Pd., Mahasiswa Prodi PBA S3. Sementara Samsul Haq, M.Pd., mahasiswa yang bertindak sebagai moderator. Dr. Abdul Karim al Imrani, Dosen asal Sidi Mohamed Ben Abdellah University, Maroko didapuk sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Dosen asal kampus nomor satu di Maroko tersebut mengangkat tema al Musaahamah al Mutawaffirah min al Qawaa’id al Lughah al Arabiyyah li ‘ilm al Lisaaniyyaati al Arabiyyah al Tatbiiqiyyah.
Adapun beberapa poin yang disampaikan dalam kegiatan tersebut antara lain:
- Sejak awal klasifikasi tata bahasa Arab telah ditandai oleh dua karakteristik, yakni Karakteristik pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk menampilkan masalah-masalah tata bahasa kepada pemula dan pelajar agar dapat mengaplikasikan dalam percakapan dan tulisan melalui media pidato atau surat.
- Karakteristik teoritis murni yang menampilkan filosofi tata bahasa dan debat para ahli tata bahasa, ditujukan untuk para ahli dalam ilmu syariah, bahasa, dan sebagainya.
- Kenyataannya, konsep tata bahasa yang bersifat pendidikan bukanlah produk zaman modern, tetapi memiliki akar yang dalam dalam warisan linguistik Arab yang bermula dari abad kedua Hijriyah, ketika kebutuhan akan penulisan tata bahasa muncul untuk mempertimbangkan kemampuan belajar orang Arab dan non-Arab yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa kedua. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan jenis klasifikasi ini semakin meningkat, dan metode penyusunan beragam antara ringkasan, pengaturan, penjelasan, dan komentar, semua bertujuan untuk menyederhanakan dan mempermudah pemahaman tata bahasa.
- Sejak abad tersebut para ulama kita menyadari bahwa tidak semua aturan bahasa cocok dan relevan dalam pengajaran bahasa. Ini berarti ada dua jenis aturan, satu yang praktis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lainnya bersifat teoritis khusus yang berguna dalam penelitian dan studi ilmiah.
- Gramatikal bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan sarana untuk pemahaman yang mempertimbangkan kebutuhan pembelajar dan cukup dengan pengetahuan dasar yang memungkinkannya untuk memahami struktur dan karakteristik bahasa Arab yang mempengaruhi keterampilan menulis dan berbicara, termasuk intonasi.
- Sibawaih dalam menyajikan materi nahwu menggunakan 2 pendekatan. Pendekatan pertama adalah fungsional dan pendidikan: di mana Sibawaih dalam bukunya memaparkan bentuk-bentuk tata bahasa Arab yang benar sesuai dengan yangdidengar dari linguist, memberikan arahan kepada pembaca agar mengikuti mereka dalam gaya penulisan dan ekspresi;Pendekatan kedua adalah pendekatan teoritis dan penelitian: Sibawaih dalam bukunya mengungkapkan gaya bahasa yang digunakan oleh linguis.
- Begitu pula dengan karya monumental Alfiyah Ibnu Malik, Pilihan Ibn Malik untuk menggunakan bentuk puisi adalah untuk memudahkan para pelajar, karena puisi lebih mudah diingat. Dia tidak memilih bentuk-bentuk metrik yang rumit, tetapi memilih gaya rajaz karena lebih cocok dan lebih dekat dengan jenis aturan tata bahasa semacam itu. Rajaz telah menjadi metode yang digunakan sejak lama oleh para pendidik untuk mengajar anak-anak..
- Para linguis modern sangat memperhatikan gramatika yang bersifat pendidikan (nahmu ta’limi, meskipun jenis nahwu ini bukanlah hasil dari zaman modern, melainkan telah ada sejak zaman dahulu yang jika ditelisik tercermin dari kitab nahwu klasik. Nahwu Ta’limi adalah nahwu yang khusus ditujukan untuk pemula, sedangkan nahmu ilmiah adalah tata bahasa yang ditujukan untuk pakar dan mereka yang tertarik untuk mendalami nahwu secara mendalam.
- Terdapat karakteristik yang jelas dari nahwu ta’limi pada era Arab klasik yang tampak berupaya untuk membedakan antara apa yang diperlukan oleh pemula dan apa yang ditujukan untuk para ahli. Ibn Malik, melalui karyanya Alfiyyah, mencoba untuk mempermudah pemahaman nahwu bagi pemula dengan memperhatikan syarat-syarat yang membantu pembelajaran tata bahasa memilih bahasa yang sederhana dan gaya yang mudah dimengerti, berusaha untuk menghindari perbedaan dan konflik pendapat di antara para ahli tata bahasa, serta memilih contoh-contoh yang umum dan memilih istilah-istilah yang paling mudah dan paling sederhana.