FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM MARAGUSTAM SIREGAR

Prodi PBA S3 FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar kegiatan Kuliah Dosen tamu Seri ke-2 secara virtual pada Senin 1 November 2021. Prof. Dr. H. Maragustam Siregar sebagai dosen pengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam memberikan keynote speech dalam kegiatan tersebut. Beliau menyampaikan sangat komprehensif, sehingga mampu mengupas berbagai sisi dari mata kuliah tersebut.

Beliau memaparkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam terhadap pendidikan dapat berfungsi sebagai normative, teori, kritik, analisis, dan evaluasi. Sebagai contoh, tujuan Pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang bertanggungjawab, berakhlak, dan bertakwa. Ketika hal tersebut tidak tercapai maka dilakukan konstruksi kurikulum yang meliputi kompetensi spiritual, social, pengetahuan, dan keterampilan yang merupakan hasil dari konstruksi filsafat. Filsafat akan menjelma menjadi teori bagi Pendidikan Ketika mampu menjawab pertanyaan “apa”dan “bagaimana”. Filsafat sebagai ilmu pengetahuan juga dapat menduduki agama, artinya seseorang memiliki pribadi yang baik bukan hanya karena agama, bisa jadi karena filsafat. Artinya kehadiran filsafat yang banyak orang masih melihatnya sebagai sesuatu abstrak memiliki peranan yang sangat penting.

Kajian Filsafat Pendidikan islam Dari segi sumber yakni berasal dari murni dari ajaran Islam tertuang dalam Alquran Hadis, dan pendapat para ulama, juga dari ideologi berbangsa dan bernegara, sosio-kultural yang berkembang di masyarakat. Adapun dari segi dasar pemikiran, selain menggunakan dasar filsafat Islam, juga menggunakan filsafat Yunani atau filsafat Barat yang akhirnya bermuara pada aliran-aliran pemikiran pendidikan seperti Progresivisme, Esensialisme, Perennialisme, Eksistensialisme, dan Rekonstrusionisme. Sementara dari segi pendekatan pemikiran, selain menggunakan doktriner, normatif, dan idealistik, juga menggunakan pendekatan adopsi, adaptif- akomodatif atau pragmatis, selain menampilkan pemikiran yang spekulatif- rasionalistik, juga memungkinkan menampilkan pemikiran yang spekulatif-intuitif.

Filsafat Pendidikan Islam memiliki beberapa model pemikiran. Pertama, Tekstualis Salafi yang memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al- Qur‟an dan Sunah dengan melepaskan diri dan kurang begitu mempertimbangkan situasi kongkrit dinamika pergumulan masyarakat muslim. Aliran ini jelas kurang sesuai dengan kondisi Indonesia yang prural dan beragam. Menurutnya, masyarakat ideal: masyarakat salaf, yakni struktur masyarakat era kenabian Muhammad SAW dan para sahabat yang menyertainya. Rujukan utama pemikirannya adalah kitab suci Al- Qur‟an dan kitab-kitab Hadits tanpa menggunakan pendekatan keilmuan yang lain. Sehingga model pemikiran ini terlihat kurang peka terhadap perubahan dan hanya menjadikan masyarakat salaf sebagai parameter dalam menjawab tantangan dan perubahan zaman serta era modenitas dan kontemporer.

Adapun aliran Trandisional Madzhabi memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunah dipahami melalui bantuan khazanah pemikiran Islam klasik, tetapi sering kali kurang begitu memperhatikan situasi historis dan sosiologis masyarakat setempat di mana ia turut hidup di dalamnya. Baginya Hasil pemikiran ulama‟ terdahulu sudah pasti dan absolute tanpa perlu dipertimbangkan dimensi historisitasnya. Pola pikirnya selalu bertumpu pada hasil ijtihad ulama‟ terdahulu dalam menyelesaikan persoalan ketuhanan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan . Kitab kuning menjadi rujukan pokok, dan sulit untuk keluar dari mazhab atau pemikiran keislaman yang terbentuk beberapa abad lalu.

Lain halnya dengan aliran modern yang memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Al-Qur‟an dan Al-Sunnah dengan hanya semata-mata mempertimbangkan kondisi dan tantangan sosio- historis dan cultural yang dihadapi oleh masyarakat Muslim kontemporer, tanpa mempertimbangkan muatan-muatan khazanah intelektual muslim era klasik yang terkait dengan persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Model ini tidak sabar dalam menekuni dan mencermati pemikiran era klasik, lebih bersikap potong Kompas langsung memasuki teknologi modern tanpa mempertimbangkan khazanah intelektual muslim dan bangunan budaya masyarakat muslim yang terbentuk berabad-abad. Obsesi pemikirannya adalah pemahaman langsung terhadap nash Al- Qur‟an dan langsung loncat ke peradaban modern.

Berbeda dengan modern, aliran neo modernis memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar dalam Al-Qur‟an dan Al- Sunnah harus berupaya mengikut sertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia teknologi modern. Jadi model ini selalu mempertimbangkan Al-Qur’an dan Al-Sunah, khazanah pemikiran Islam klasik, serta pendekatan-pendekatan keilmuan yang muncul pada abad ke 19, 20, dan abad kontemporer. Jargon yang sering dikumandangkan adalah: “al- Muhafazah „ala al-Qadim al-Salih wa al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah”, yakni memelihara hal-hal yang baik yang telah ada sambil mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Keluarga, background Pendidikan, organisasi social, organisasi politik, agama, etnis, dan letak graografis adalah beberapa factor yang mempengaruhi lahirnya Filsafat Pemikiran Pendidikan Islam.