MEMBABAT LINGUISTIK TERAPAN DALAM KULIAH DOSEN TAMU SERI KE-3

Prodi PBA S3 FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Kuliah Dosen Tamu Seri ke-3 pada Rabu, 10 November 2021. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting pada pukul 13.00 sampai dengan 15.30. Kegiatan tersebut mengusung tema “Linguistik Terapan: Tantangan dan Peluang dalam Pengembangan Pendidikan Bahasa Arab” dengan mendapuk Prof. Dr. (HC) Hywel Coleman, OBE, M.A. seorang Peneliti Bahasa Internasional sebagai dosen tamu atau narasumber. Beliau sering melakukan penelitian bahasa, khusunya di berbagai negara di Asia dan Afrika.

Beliau memulai paparannya dengan menjabarkan pengembangan linguistik terapan di Inggris. Menurut beliau, paling tidak ada dua journal yang usianya sudah cukup lama yang berfokus pada linguistic terapan. Pertama, journal Applied Linguistict yang sejak berdirinya sampai sekarang sudah mencapai angka 42 tahun. Dalam jurnal tersebut banyak dibahas bagaimana penggunaan bahasa di negara-negara kecil digunakan untuk solidaritas. Namun dalam jurnal tersebut beliau melihat sebuah cela, yakni pelaporan hasil penelitian berupa hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif cenderung tidak dilaporkan. Kedua, Journal of Applied Linguistict & Professional practice. Dalam journal tersebut lebih khusus membahas linguistik terapan berkaitan dengan profesi seseorang. Misalnya, bahasa yang digunakan antara dokter gigi dan pasiennya.

Menurut beliau, linguistik terapan dengan tema seperti itu di Indonesia masih sulit untuk ditemukan, padahal sangat penting. Misal, bahasa yang digunakan antara pengacara dan klien, dokter dan pasien, dan lain sebagainya. Hal ini mengingat dokter yang notabene golongan berpendidikan yang mayoritas berasal dari kelas menengah, sedangkan pasien belum tentu demikian. Ya, banyak sekali ruang dalam penelitian bahasa belum banyak yang menjamah, karena bahasa yang terlihat simpel itu sebenarnya sangat kompleks. Bahasa digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dalam berbagai kepentingan.

Kompleksitas Bahasa dalam ranah yang lebih luas dapat dilihat di beberapa negara yang memiliki lebih dari satu bahasa nasional. Ketika ingin membahasakan sesuatu di negaranya tidak menemukan titik temu, karena kedua bahasa tersebut tidak mau duduk berdampingan. Sebagai hasil penemuan beliau di gerbang University of Herat di Afganistan tidak tertera kata selamat datang, nama universitas, dan lain sebagainya. Setelah ditelisik, di negara tersebut memiliki dua bahasa nasional dan belum mendapatkan kesapakatan untuk menggunakan bahasa yang mana dalam pintu gerbang kampus tersebut. Sehingga jalan yang dipilih adalah untuk tidak menyertakan tulisan dalam bahasa apapun dibanding berujung pada konflik. Lain halnya dengan di pintu gerbang Parwan University, bahkan nyaris di setiap tempat terdapat tulisan yang terdiri atas 3 bahasa, yaitu bahasa Dari, bahasa Inggris, dan bahasa Pasto. Dua bahasa tersebut baru mau duduk berdampingan jika di tengahnya terdapat bahasa Inggris. Dalam hal ini, bahasa Inggris berperan untuk mendamaikan dua bahasa yang kurang bersahabat. Begitu juga dengan bahasa Arab yang tidak jarang menunaikan peran demikian.

Berdasarkan peneliannya di Afganistan, ada beberapa peran bahasa Inggris di negara tersebut. Pertama, untuk melakukan sesuatu. Misal, untuk konsultasi dengan konsultan dari luar negeri. Kedua, untuk menyampaikan protes dengan menjadikan tembok sebagai medianya. Ketiga, ancaman dan menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa orang kafir. Dari anggapan segelintir negara tentang bahasa Inggris ini, menurut beliau di negara Inggris muncul sebuah asumsi bahkan kesimpulan bahwa madrasah benci terhadap bahasa Inggris.

Berkaitan dengan hal itu, Hywel Coleman sebagai peneliti bahasa melakukan penelitian kecil-kecilan di 6 pesantren di Indonesia dengan rincian 2 pesantren di Cilacap, 2 pesantren di Bogor, dan 2 pesantren di Padang Sumatera Barat. Penelitian yang dilakukan terhadap 31 responden dengan rincian 16 santri perempuan dan 15 santri laki-laki dengan kisaran usia 15 samapai 19 tahun tersebut dilakukan secara mandiri menggunakan dana sendiri. Penelitian tersebut sampai pada kesimpulan bahwa madrasah atau pesantren tidak benci terhadap bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Mayoritas santri tersebut memiliki kemampuan multilingual, yakni bahasa ibu, bahasa nasional, dan bahsa asing, entah itu bahasa Arab, Inggris, Perancism bahkan Korea.

Berkaitan dengan penguasaan bahasa yang dimiliki oleh sebuah komunitas atau individu tersebut, beliau membaginya menjadi 2 istilah, yaitu multingualism dan plurilingualism. Pluralingualism adalah penguasaan lebih dari 2 bahasa yang yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat. Misal, masyarakat Jawa Tengah yang menguasi bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Adapun multlingualism adalah penguasaan lebih dari 2 bahasa yang dimiliki oleh individu. Perbedaan istilah ini dapat ditemukan di berbagai referensi di Eropa, seperti perancis. Namun Amerika menggunakan istilah yang sama untuk penguasaan bahasa tersebut, yakni multilingualism.