FGD BUKU PEDOMAN SANDWICH PROGRAM PRODI PBA S3 UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

FGD BUKU PEDOMAN SANDWICH PROGRAM PRODI PBA S3 UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Kaprodi PBA S3 Dr. Hj. R. Umi Baroroh, M.Ag. dalam kegiatan FGD yang dilaksanakan pada Rabu, 1 September 2021 menyebutkan Sandwich Program merupakan mata kuliah wajib dan salah satu keunggulan yang diangkat oleh PBA S3. Sandwich Program memiliki beberapa tujuan, antara lain: mendapat pengalaman secara langsung dari sumbernya, disertasi berkualitas internasional, dapat berdialog dan bimbingan langsung dari Dosen Luar Negeri untuk memperoleh masukan yang signifikan, dan pengabdian kepada masyarakat secara internasional. Melalui pembangunan pondasi awal berupa Buku Pendoman Sandwich Program diharapkan lahir mahasiswa dengan karya-karya yang unggul dan berkualitas internasional.
Di sisi lain, Dr. H. Tulus Musthofa, Lc., M.A. yang ditunjuk sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut justru menegaskan bahwa tujuan utama Sandwich Program adalah mendapat bimbingan proposal disertasi. Proposal akan dibedah oleh Dosen Pembimbing Luar Negeri dari kampus terntentu, baik secara konten maupun bahasa. Adapun manfaat lain yang dapat dipetik, seperti mendapatkan lingkungan bahasa yang mendukung adalah hal yang alami didapatkan. Tetapi target utama dari Sandwich Program adalah pematangan proposal disertasi.
Lebih jauh beliau menuturkan dalam kegiatan yang dimulai pukul 13.00 itu, jika akan melakukan Sandwich Program, maka proposal mahasiswa harus berbahasa Arab, karena naskah tersebut akan dibaca dan dibimbing langsung oleh Dosen Timur Tengah. Terlepas dari apapun syarat yang disertakan di Buku Pedoman, tetapi syarat terpenting untuk mengikuti Sandwich Program adalah penguasaan bahasa Arab yang baik. Kegiatan Sandwich Program meliputi kuliah umum yang didapatkan di awal kedatangan, bedah proposal oleh Pembimbing Dosen Luar Negeri yang ditunjuk, dan mengunjungi perpustakaan untuk melihat berbagai literatur yang tersedia. Perlu dicatat, Sandwich Program tidak memungkinkan mahasiswa sampai pada tahap bimbingan disertasi.
Salah satu tahapan yang harus ditempuh untuk melakukan Sandwich Program adalah mengajukan MoU atau koresponden, disusul dengan mengajukan surat permohonan. Jika disetujui, bisa langsung berangkat ke kampus yang bersangkutan di Timur Tengah. Sejatinya, Sandwich Program adalah tinggal di luar negeri beberapa waktu lamanya, dalam hal ini adalah untuk mematangkan proposal disertasi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan instansi. Adapun jika kondisi yang mengharuskan dilakukan secara online, tetapi proposal disertasi tetap mendapat bimbingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan maupun Dosen Luar Negeri.
Hal ini diperkuat oleh Toni Pransiska yang pernah mengikuti Sandwich Program ke Mesir selama 3 bulan di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2016 silam. Beliau menuturkan, “Sandwich Program tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan proposal. Jadi, pada saat itu semua berangkat setelah seminar pproposal, dihubungkan dengan pembimbing ke kampus tujuan, dibawa oleh atase Pendidikan, forum ramah tamah dengan pejabat kampus setempat, presentasi proposal disertasi di hadapan calon pembimbing, ditentukan pembimbing sesuai dengan tema disertasi, diarahkan mengunjungi Perpustakaan Fakultas dan Perpustakaan Universitas, mengikuti pembelajaran di kelas, dan mengikuti beberapa kali seminar bedah buku”. Adapun outcome lain yang harus didapatkan dari Sandwich Program pada saat itu adalah mempublikasikan 1 artikel di Jurnal Internasional.
Dr. Muhajir, M.Pd., M.S.I. juga menguatkan bahwa Sandwich program dilaksanakan Ketika proposal disertasi sudah diseminarkan dan mendapatkan promotor. Setelah itu akan mendapatkan bimbingan pengkayaan dari Dosen Luar Negeri. Sandwich Program sangat membantu bagi mahasiswa yang melakukan penelitian kajian leteratur. Adapun bagi mahasiswa yang penelitian lapangan sangat bermanfaat untuk memperkaya perspektif. Beliau yang sudah mencicipi manisnya Sandwich program di Tunisia selama 1 semester itu menambahkan bahwa program tersebut tidak harus di Timur Tengah. Beberapa kampus di Asia Tenggara yang memiliki bidang yang sama seperti Malayasia dan Brunei Darussalam bisa dijadikan sebagai alternatif.
Penulis: Ira Nurhasanah